scribo ergo sum

Selasa, 05 April 2016

Pentingnya Penuls Fiksi Paham Prosedural

12:23 Posted by Wiwien Wintarto No comments
Dalam sebuah sinetron FTV, tampak sepasang suami-istri jet set menerima tamu berbaju formal jas dan dasi yang menyampaikan sebentuk dokumen. Isi dokumen menyatakan bahwa rumah beserta isinya disita karena sang suami tak bisa membayar utang. Mereka berdua pun harus secepatnya angkat kaki dari rumah itu.
Dalam adegan berikutnya, mereka terlihat sudah menyusuri trotoar jalan sambil membawa kopor (yang kelihatan enteng dan nggak ada isinya). Mereka sedih karena tak punya rumah. Lalu sang istri menelepon kawannya untuk minta tolong dicarikan rumah kontrakan. Ternyata langsung ketemu. Mereka pun segera menempati rumah itu, meski jelas tak sekeren rumah mereka sebelumnya.

Kamis, 24 Maret 2016

Himpena dan Busy Weekend

09:51 Posted by Wiwien Wintarto No comments
Suasana deklarasi Himpena di Desa Bahasa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jateng
Sebagai penulis, jadwal kerjaanku mirip pengangguran: sak karepku dhewe alias semauku sendiri. Hampir tak bisa disebut kerja sama sekali wong tak ada beban dalam segala dimensi. Kalau pas harus isi acara di luar kota pun lebih terasa kayak piknik, dan bukan aktivitas yang terjadwal padat seperti jadwal meet and greet, seminar, atau roadshow para penulis sekaliber Andrea Hirata, Dee, atau Tung Desem Waringin.

Jumat, 26 Februari 2016

Untuk Para Penulis, Sekarang Ada HPI!

10:21 Posted by Wiwien Wintarto No comments

Sekitar lima atau enam tahun lalu, aku pernah berpikir soal organisasi profesi buat penulis. Para dokter, wartawan, pengusaha, sopir angkot, pedagang pasar, arsitek, lawyer, semua berserikat, kenapa penulis belum? Suatu kali aku mewacanakannya (cuman lewat FB sih), tapi tak ada sokongan berarti khususnya dari rekan sesama penulis, kecuali berupa jempol tanda “like”.
Lalu aku melupakannya, dan baru ingat lagi mengenai hal itu ketika tempo hari bertemu Yozar (Lissari menjadi saksinya) yang sekarang berkarier di Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif). Bertiga, kami mengobrolkan banyak hal—RUU Sistem Perbukuan, pengembangan ekonomi kreatif di bidang kepenulisan dan buku, serta rencana Bekraf mengenai sertifikasi penulis.

Rabu, 17 Februari 2016

Bukan tentang Memiliki

13:58 Posted by Wiwien Wintarto No comments

Perjalanan sebuah naskah dari sejak Bab 1 ditulis hingga akhirnya bisa nangkring di toko buku tidaklah mudah. Banyak cerita terjadi dan kadang perlu makan waktu bertahun-tahun untuk melewati keseluruhan proses itu. Novel teranyarku ini, Remember December, bahkan menjalani tahapan itu nyaris selama satu dekade, karena mulai kutulis tahun 2007 saat menjelang proses terbit novel Say No to Love.

Rabu, 27 Januari 2016

Berasa Lagi Nonton Film

10:15 Posted by Wiwien Wintarto No comments

Beberapa waktu lalu, waktu sedang hang out di Repoeblik Nongkrong bareng Aulia, Sindi, dan Enggar, seorang mahasiswa komunikasi Undip bertanya pada Aul tentang efek video game pada remaja. Aul, dan juga aku, menjawab sama: depends on the game itself. Artinya, efek games pada kita tak bisa disamaratakan dan digeneralisasi. Digebyah uyah, kalau kata orang Jawa.
Games, atau orang, atau sinetron, tentu sama saja. Ada yang memberi dampak bagus, ada yang tidak. Kecermatan memilih adalah yang terpenting, bukan mengernyitkan dahi pada bendanya. Balik ke soal games, bila kita telah menguasai literasi games, maka akan sangat mudah memfokuskan perhatian hanya pada game-game seperti The Longest Journey ini, lalu meninggalkan game-game yang tak terlalu berkualitas. Kita jadi punya self-censorship soal video game.

Mencoba Memahami Jajanan Anak-anak

10:04 Posted by Wiwien Wintarto No comments

Novel, sebagaimana jajanan, juga tersegmentasi. Ada target tertentu yang dituju, di mana dia berfungsi sangat baik pada tingkatan itu, namun tidak pada tingkatan yang lain. Karena itu penilaian kepadanya harus dilihat pula pada ranah tersebut, dan tidak semata pada eksistensinya secara utuh dan bulat.
Membaca Refrain karya Winna Efendi adalah seperti memahami arti penting jajanan anak-anak bagi anak-anak. Inilah saatnya kita belajar berempati dan mengamati sesuatu tak melulu dari persepsi dan perspektif masing-masing. Kita harus rehat sejenak berada dalam posisi orangtua yang berkernyit dahi sambil bertanya “Enaknya di mana sih?” pada anak yang menikmati pasta cokelat atau permen jelly.

Bagai Membaca Artikel Feature Raksasa

09:58 Posted by Wiwien Wintarto No comments

Akhirnya, jauh setelah buming novel dan filmnya lewat, baru sempat baca Negeri 5 Menara karya A Fuadi. Ini mirip dengan kasus Laskar Pelangi dulu, di mana aku baru membacanya jauh setelah hiruk pikuknya terlewati. Mungkin kelak aku baru akan baca karya-karya Tere Liye sekian tahun embuh kapan dari sekarang.
Back to Negeri 5 Menara, membaca buku ini tak terlalu berasa seperti membaca sebuah novel, melainkan artikel feature—dalam ukuran raksasa. Tahu kan jenis tulisan feature di negeri jurnalistik? Itu salah satu cabang tulisan jurnalistik yang berisi kupasan tuntas dan mendalam mengenai segala sesuatu, diutamakan yang memiliki sisi human interest.

Senin, 31 Agustus 2015

Mengapa Penulis Fiksi Perlu Skill Jurnalistik?

13:23 Posted by Wiwien Wintarto 2 comments
Sekian tahun lalu, aku ikut mempanitiai workshop nulis di Semarang yang menghadirkan novelis Gol A Gong, idolaku saat masih ABG dan langganan Majalah HAI. Mas Gong bilang, salah satu syarat yang harus dimiliki penulis fiksi jempolan adalah menguasai kemampuan jurnalistik. Berbekal kemampuan dasar itu, hasil tulisan kita pasti akan terasa kaya dan mendalam.
Aslinya aku sendiri tak tahu itu sampai mendengarnya dari Mas Gong. Dasar kemampuan jurnalistik kupelajari bukan dalam rangka menunjang kemampauan nulis fiksi, melainkan cuman sekadar pantes-pantesnya kuliah saja. Belakangan barulah benar-benar terbukti bahwa dasar kemampuan jurnalistik sangat membantu kita dalam nulis fiksi.
Dalam banyak kasus, para penulis fiksi adalah wartawan juga—atau mantan, sepertiku. Tak heran ada cukup banyak novel romance masa kini yang menampilkan tokoh utama seorang jurnalis, atau berlatarbelakangkan dunia media massa, baik cetak maupun elektronik.
Maka ketika bicara soal manfaat kemampuan jurnalistik dalam skill nulis fiksi, mayoritas pengarang sudah tak lagi mumet. Hal itu sudah mendarah daging secara natural. Nulis fiksi pun tak ubahnya sekadar “kelas advance” bagi dunia kepenulisan jurnalistik yang sudah lebih dulu digeluti.
Namun bagi para penulis baru yang langsung terjun ke dunia fiksi, obrolan tentang topik ini pasti agak terasa abstrak. Kemampuan jurnalistik itu kayak apa? Melatihnya gimana? Dan kalau sudah menguasai, efeknya bagi tulisan fiksi jadi seperti bagaimana?

Cinta Detail
Jurnalis selalu based on facts saat menulis. Maka saat menemui sesuatu, dia akan berusaha untuk tahu betul hal itu. Dimulai dari data diri narasumber, orang yang terlibat dalam peristiwa, hingga keseluruhan peristiwa itu dan latar belakangnya.
Kebiasaan ini akan membuat kita cinta pada detail segala sesuatu, mirip novel-novel Dee atau Dan Brown yang kaya akan detail. Jadi menyusun cerita tak hanya menggambarkan percintaan umum, namun juga masuk mendalam ke aktivitas para tokoh utamanya.

Always Riset
Saat menggali info suatu berita, wartawan akan melakukan dua cara: interviu dan riset. Kemampuan itu sangat berguna saat kita menulis fiksi. Kita tentukan tema cerita, lalu betul-betul menggali tema tersebut sampai ngelotok. Satu, agar cerita jadi kaya; dan dua, agar sekalian bisa nambahin ilmu pengetahuan bagi pembaca.
Novelis-novelis top dunia melakukan ini dengan dedikasi tinggi. Mereka mewawancarai banyak pakar dan membaca banyak buku untuk bikin satu novel. Kalau agak malas (kayak aku), ke Wikipedia saja sudah cukup.
Keuntungan paling besar adalah, kita jadi melek pada banyak hal. Meski aslinya hobi dengerin musik metal, tapi tetap nyambung kalau suatu saat ketemu politikus, ahli biologi kelautan, pakar seksual, penggemar MU, sineas film, atau peternak udang windu sekalipun.

Multisektoral
Dulu ada kawanku wartawan yang pas jadi reporter bertugas di desk hiburan. Gaulnya sama artis. Pas diangkat jadi editor dan ditarik ke HQ, dia dipindah ke desk politik. Berikutnya, ketika hijrah ke media lain, dia bertugas di desk ekonomi yang khusus membahas tentang pasar saham. Mendadak dia pindahan sambil membaca banyak buku soal stock market.
Seperti itulah jurnalis. Celaka kalau sampai adem ayem di comfort zone, soalnya kita tak pernah tahu habis ini akan dipindah ke bidang liputan yang seperti apa. Mentalitas itu sangat penting bagi pengarang, yang harusnya jauh lebih liar lagi daripada jurnalis.
Maka kita juga tak akan terjebak dalam tema “comfort zone” kita. Mentang-mentang kru mini market, novel kesatu sampai ke-21 membahas dunia keminimarketan semua. Mental jurnalis akan membuat kita selalu tertantang untuk menemukan dan membahas barang-barang baru dan berbeda di tiap karya.

Tidak Gagap
Aku kerap membaca novel dengan bahasa yang “gagap” saat menyebut istilah suatu hal, terutama yang tidak diakrabi oleh pengarangnya. Misal menyebut tokoh cowok kapten tim basket SMA sebagai “jago basket paling ngetop seantero kota”, dan kegiatannya di perbasketan hanya dengan istilah semacam “mengikuti pertandingan basket antarsekolah”.
Basket adalah olah raga tim. Tim selalu mencuat duluan sebelum pemain, kecuali bila ada yang bertalenta yahud macam Yao Ming atau LeBron James. Seorang pemain yang outstanding pasti digelari berdasar trade mark-nya yang betul-betul memakai istilah perbasketan. Misal jago lemparan 3 angka, atau sering melakukan slam dunk. Dan ada pula penghargaan MVP (most valuable player) bagi pemain terbaik sebuah turnamen.
Lalu aktivitas pemain basket sekolah selain latihan rutin (di ekskul) biasanya ada tiga jenis: pas class meeting melawan kelas lain, friendly game dengan sekolah lain, dan ikut turnamen resmi. Dan turnamen-turnamen pasti ada namanya, misal Kejuaraan Basket Pelajar Tingkat Provinsi, cabor basket di Pekan Olahraga Pelajar, Invitasi Basket Pelajar, atau Street Basketball Challenge.
Jika punya dasar skill dan mentalitas jurnalisme soal detail, riset, dan multisektoralisme, kita pengarang akan masuk benar ke tema dan tahu soal istilah-istilah tersebut jika hendak menghadirkan tokoh yang seorang pemain basket. Kita pun tidak terjebak dalam istilah-istilah yang wagu tadi. Pasti diketawain pembaca yang tahu benar soal basket.
Lalu kita akan masuk mendalam juga ke tema-tema lain yang sebenarnya tidak kita kuasai—kedokteran, sepakbola, musik klasik, wingchun, wall climbing, hacking, dll.

5W+1H
Wartawan selalu berusaha menjawab pertanyaan 5W+1H dengan jawaban sedetail mungkin berdasarkan fakta sahih. Saat pengarang fiksi bisa mengikuti habit itu, kita juga akan punya bekal kuat untuk membangun empat dari lima unsur pembentuk fiksi.
Menjawab “what” akan memaksa kita untuk detail soal tema dan permasalahan di dalam cerita. “Where” dan “when” adalah soal setting cerita, tempat dan waktu. “Who” jelas mengenai karakterisasi yang kuat. “Why” dan “how” adalah soal alur (plot), yaitu tentang latar belakang cerita (backstory) dan pengaturan urut-urutan kisah.
Satu unsur lagi, gaya, terpulang pada masing-masing pengarang untuk memilih sendiri gaya favoritnya sendiri-sendiri bisa punya ciri khas.

Dalam episode lanjutan, kita akan mengobrolkan bagaimana teknik sesungguhnya untuk dapat mempelajari skill jurnalistik itu.

Minggu, 30 Agustus 2015

Witing Nginspirasi Jalaran saka Kelas Inspirasi

08:20 Posted by Wiwien Wintarto 1 comment
Hari Sabtu 29 Agustus kemarin, agendaku agak lain dari pekan-pekan sebelumnya yang pasti di seputar acara-acara perbukuan di TB Gramedia Balaikota, Semarang. Kali ini aku justru meluncur ke Best Western Star Hotel, Jl. MT Haryono, tak jauh dari Java Supermall. Aku mengikuti Hari Briefing Kelas Inspirasi Semarang 2 tahun 2015.

Kamis, 27 Agustus 2015

Mirip Woodward & Bernstein

09:07 Posted by Wiwien Wintarto No comments
Poirot & Hastings di serial "Agatha Christie's Poirot"
Style alias gaya merupakan satu dari lima unsur pembentuk fiksi, selain plot, karakterisasi, setting (latar), dan tema. Style menentukan bagaimana seorang pengarang menggunakan pilihan-pilihan pribadinya dalam menuliskan ceritanya. Itu termasuk angle penceritaan (pakai “aku” atau angle orang ketiga), gaya bahasa, redaksional, dan metoda penceritaan