Quotation of the Day

Monday, November 30, 2009

Dulu Lebih Pedes!

Belakangan ini aku jadi rajin mampir ke situs Metropop Lover. Aku nemu situs itu waktu pemiliknya, Yuli Yono, meresensi novel terbaruku, The Sweetest Kickoff. Terlepas dari apa penilaian YY terhadap Kickoff, aku sangat menyukai situs itu, karena mengingatkanku pada “profesi”-ku dulu tepat sebelum terjun jadi novelis.

Dulu blog-ku, PandoraBox ini, juga kukhususkan untuk merensi (terutama) novel. Ini ada kaitannya dengan pekerjaanku di Tabloid Tren almarhum, karena waktu itu aku jadi editor rubrik resensi segala macem (buku, film, kaset, DVD, sinetron, dll). Resensi yang habis dimuat di Tren lantas ku-upload di blog itu.

Yang paling seru kuresensi jelas adalah novel. Pas sekitar tahun 2004-2005, awal aku punya blog, adalah masa awal buming novel-novel teenlit. Dan begitu lucu-lucunya novel genre abege itu membuat tanganku juga ikut gatal untuk meresensinya di Tren. Aku pernah meresensi Me Vs High Heel-nya Maria Ardelia, DeaLova-nya Dyan Nuranindya, Fairish (Esti Kinasih), dan juga novel-novel Laire Siwi Mentari.

Tapi begitu aku serius terjun jadi novelis, profesi kritikus novel jelas harus kutinggal. Kan nggak mungkin orang jadi tukang pembuat dan sekaligus analis. Wayne Rooney juga nggak mungkin nyambi kerja jadi komentator bola mendampingi Martin Tyler di siaran langsung Liga Primer. Nanti sesudah gantung sepatu, baru dia bisa jadi komentator.

Sekarang aku paling baru meresensi buku yang perlu-perlu tok, kayak Panembahan Senopati: Geger Ramalan Sunan Giri (Gamal Komandoko) tempo hari. Itupun sekadar komentar, dan nggak sampai sedalam (dan sesinis!) ulasanku dulu-dulu. Dan demi etika, aku juga nggak akan meresensi novel-novel karya para teman dari label yang sama (GPU). Padha golek pangane kok sikut-sikutan, kata orang Jawa.

Balik ke Metropop Lover, situs ini penting karena mencerminkan sistem ideal yang seharusnya berlaku. Seniman nggak bisa hanya sekadar berkarya nunggu penjualan tanpa mendengar apa kata audiens tentang karyanya, terutama dari publik awam penikmat. Resensi (kritik) adalah simbol bahwa komunikasi dua arah antara komunikator (novelis) dan komunikan (pembaca) terjalin dengan harmonis.

Selain itu kritik (yang konstruktif) adalah bahan ajar bagi pengarang untuk bergerak maju. Mosok cuman ngarang itu-itu terus seumur hidup? Tema yang itu-itu terus? Permasalahan yang itu-itu terus? Dengan kualitas teknik skill individu yang juga itu-itu terus? Kapan dunia pernovelan pop Indonesia akan maju kalau caranya begitu?

Perfilman Indonesia adalah contoh stagnasi itu. Karena mekanisme “kontrol sosial” melalui kritik di media nggak berjalan, para sineas pun menjadi semaunya sendiri membuat film. Kualitas mandek, nggak ada inovasi, dan hanya nama-nama langganan (Garin Nugroho, Riri Riza, Nia Di Nata) yang bisa bikin film-film berkualitas.

Aku sudah lama dibikin kagum oleh sistem kritik film di Amerika yang berjalan bagus. Roger Ebert, James Berardinelli, atau Claudia Puig rajin menganalisis tiap film yang beredar. Para sineas pun nggak bisa seenak udele dhewe bikin film kalau nggak mau karya mereka terus-terusan dikasih “thumbs down” atau “zero star” oleh para kritikus itu. Pada gilirannya pasti akan ada perkembangan dan perbaikan kualitas.

Metropop Lover adalah simbol mekanisme itu. Jadi kami para pengarang bisa mengukur sampai di mana tingkat pencapaian kualitas novel-novel kami dari waktu ke waktu, nggak cuman diukur dari tingkat kelakuannya tok (maksudnya, laku laris!). Apa yang di novel ini dinilai kurang memuaskan oleh publik, bisa diperbaiki pada novel berikut, sehingga dari judul ke judul akan terus terdapat improvement sehingga nggak mandek dan stagnan.

Tiap kali habis nerbitin buku, terutama sejak Say No to Love, aku selalu rajin mengubek-ubek Google untuk nyari resensi bukuku. Modalnya ya cuman Google, soalnya media besar di dunia nyata kayak Kompas, SM, Jawa Pos, TV nasional, mana pernah notice buku-buku WW? Yang digeber tentu yang sudah besar kayak Andrea Hirata atau Habiburahman El Shirazy.

Sebagai pembuat, tentu aku senang mendengar bukuku dipuji dan disanjung dengan aneka macam kata-kata manis yang membesarkan semangat. Tapi yang lebih kubaca adalah yang ngasih kritik. Metropop Lover ngasih penilaian “klise”, trus ada teman di Goodreads yang menghantam Say No to Love sebagai “tidak masuk akal”!

Bagi yang nggak kebal kritik, penilaian begini bisa bikin karier gulung tikar secara dini. Tapi aku jelas nggak, sebab aku dulu pernah jadi kritikus, dan kritikan-kritikanku amat pedas dan kadang sinis meski lucu. Sekadar info, aku pernah juga berkarier singkat sebagai kritikus film di Suara Merdeka (ada contoh-contoh artikelku di Layar Tancep). Kritik sepedas apapun di Metropop Lover belum ada seujung kuku hitam dengan kepedasan kritiku dulu, hahahehe…!

Seharusnyalah semua pembaca novel kritis seperti YY. Kan itu juga sekaligus menunjukkan cinta dan kepedulian yang tinggi, jadi baca gak sekadar baca tok, tapi juga ngasih feedback. Dan kuanjurkan pada teman-teman sesama novelis untuk rajin menengok situs ini, karena siapa tahu berikutnya giliran Anda!

YY pun nggak perlu selalu menulis kalimat apologi untuk resensi-resensinya (“Yeah, maaf kalau saya sepertinya jago ‘kritik’ sekali, padahal membuat cerita sendiri saja saya tidak bisa..”. Sebagai pembaca, YY jelas berhak untuk menyuarakan pujian atau kritikannya sesuai kondisi di lapangan, apalagi kan udah rela keluar uang untuk beli.

Di politik berlaku ungkapan “vox populi vox Dei” (suara rakyat adalah suara Tuhan). Di dunia pernovelan berlaku pula “vox pembaca vox Dei” (pembaca bahasa Latin-nya apa? Ada yang tahu? Hehe…)

Tuesday, November 24, 2009

Enid Blyton


Bicara soal influence-ku dalam menulis, terutama fiksi, aku harus menyebut nama Enid Blyton (1897-1968). Bahkan boleh dibilang, pengarang legendaris satu inilah yang telah mengubah cita-citaku dari yang biasa kayak dokter, engsinyur, ABRI, atau pegawai bank, menjadi penulis.

Novel-novelnya yang sebagian besar adalah untuk anak-anak dan ABG begitu memukauku, waktu itu pada pertengahan dan akhir era 80-an. Kebetulan saat itu aku tepat tengah berada pada level usia yang memang menjadi target market Bu Enid.

Serial novelnya yang paling awal membuatku ngefans adalah Lima Sekawan Famous Five). Ini kisah petualangan Julian, Dick, Anne, George, dan Timmy dalam memberantas kejahatan. Tiap liburan, mereka selalu terlibat dalam petualangan seru dan berakhir dengan kemenangan mereka atas komplotan-komplotan penjahat.

Aku juga suka serial Pasukan Mau Tahu (The Five Find-Outers). Kelompok yang ini beranggotakan Fatty, Larry, Daisy, Pip, Bets, dan Buster. Beda dari Lima Sekawan yang lebih ke petualangan, Fatty cs membongkar kasus misteri di desa mereka, Peterswood, dengan pelacakan dan penyelidikan yang rinci, lengkap dengan tipu daya, penyamaran, dan pemecahan masalah lewat deduksi logis.

Satu lagi serial karangan Enid Blyton yang amat berkesan adalah Petualangan (Adventure). Di sini Jack, Phillip, Dinah, Lucy-Ann, dan Kiki bertualang di tempat-tempat yang seru dan bertemu dengan misteri plus kelompok penjahat. Seri ini terhitung tebal, karena terdiri atas 300 lebih halaman, sedang serial-serial lain paling hanya 200-an.

Dan terakhir adalah serial Gadis Badung (Naughtiest Girl). Serial ini berkisah soal si badung Elizabeth Allen yang manja dan pelan-pelan jadi baik sesudah disekolahkan di sekolah asrama Whyteleafe. Gadis Badung adalah pendahulu genre Teenlit sekarang. Dan beda dari yang lain-lain, serial ini murni drama dan nggak berkait dengan urusan kriminalitas.

Yang paling istimewa dari Blyton adalah gaya bahasanya. Beberapa waktu lalu aku sempatkan diri untuk membaca lagi buku Lima Sekawan untuk melihatnya dari perspektifku sekarang, dan aku terkejut melihat betapa simpel dan sederhana gaya bertutur yang dipakainya.

Luar biasa simpel bahasa Blyton itu sehingga andai ditulis dalam bahasa aslinya pun, anak SMP yang baru belajar bahasa Inggris pun pasti bisa membacanya dengan lancar dan ngerti maksudnya. Dan waktu kuingat lagi bagaimana cara dulu aku belajar menulis (mengarang fiksi), baru aku nyadar ternyata di sinilah letak kuncinya!

Sekadar info, aku sama sekali nggak ada bakat nulis. Bakatku, turunan dari ayah, adalah gambar komik dan kartun. Kepenulisan bener-bener kupelajari dari enol banget murni sebagai skill praktis, bukan karena talenta. Ibaratnya adalah orang lholhak-lholhok dari pelosok yang masuk sekolah penerbangan dan akhirnya bisa menerbangkan F-16 setelah belajar sedikit demi sedikit.

Waktu itu aku belajar dari buku-buku Enid Blyton, terutama dari keempat serial favorit di atas. Aku cuman belajar dari itu, bukan dari buku-buku nyastra yang rumit, pelik, keren, dan tinggi. Aku meniru, dan kadang menjiplak total, bagaimana cara Blyton menuturkan aksi, suasana, kondisi psikologis, karakterisasi, dan dialog.

Dan karena aku belajar dari penulis yang menggunakan gaya bertutur yang amat simpel dan gampang dipahami, aku pun bisa dengan cepat menyerap skill yang diperagakannya. Selanjutnya, pematangan adalah soal waktu, kesabaran, dan ketekunan berlatih. Lain kalau penulis pemula belajar dari Putu Wijaya, WS Rendra, atau James Joyce, pasti malah mumet dan “lulus”-nya lama, karena karya mereka tergolong berat-berat.

Pas aku belajar nulis dari Enid Blyton, rasanya seperti belajar nyupir pada instruktur kursus stir mobil, dan bukan dari Jenson Button atau Sebastian Vettel yang levelnya udah terlalu canggih. Penting bisa jalan dulu. Urusan apakah nanti tingkat kemahirannya bisa menyamai Button atau Vettel, itu murni soal, itu tadi, waktu, kesabaran, dan ketekunan berlatih.

Satu nilai penting lain dari Enid Blyton adalah, aku nggak mulai belajar dari novel-novel yang bicara soal cinta dan roman, melainkan detektif, misteri, dan petualangan (juga spionase). Itulah sebabnya sekarang aku nggak pernah bikin novel yang melulu 100% ngomongin cinta-cintaan tok. Pasti ada urusan lain yang dibahas, dan cinta justru cuman jadi selipan dan latar belakang sekunder.

Kok Jadi Gini? tentang media (tabloid olah raga), Waiting 4 Tomorrow tentang urusan bengkel, The Rain Within tentang sepakbola (PSIS Semarang), Rendezvous at 8 tentang anak band indie, Dunia Dini tentang media lagi (majalah sekolah), Say No to Love tentang dunia sekretaris perusahaan besar, dan The Sweetest Kickoff tentang sepakbola lagi (Magelang FC).

Nah, novel berikut yang sedang dalam penggarapan adalah bentuk penghormatanku (homage) bagi Enid Blyton serta cerita-cerita detektif, petualangan, dan misteri. Kira-kira seperti apa wujudnya? Silakan penasaran, hehe…!

Wednesday, October 21, 2009

Menulis Nama di Daun

Beberapa hari yang lalu, aku berhasil kontak-kontakan lagi lewat Facebook dengan Eddi Wahyudi, teman yang paling lama hilang kontak denganku. Soalnya dia teman jauh dari masa kecil dulu, dan terakhir kali ketemu adalah kira-kira tahun 1988 atau 1989 saat kami masih SMA.

Eddi adalah teman pertamaku saat baru pindah dari Borobudur, Magelang, ke Perumahan Genuk Indah di Semarang akhir tahun 1982. Kami sekelas di kelas V dan VI SD Gebangsari I, Genuk, dan bertetangga. Dia di Blok E, sedang aku di Blok B.

Awal dekade 80-an adalah periode buming kaset video. Dan bareng keluarga Pakde Tjun di Jangli, keluarga Eddi adalah orang-orang pertama yang punya video player. Habis pulang sekolah, kami kerap hang out di rumah Eddi untuk nonton video. Nanti pas weekend, nontonnya ganti di rumah Bayu, Sam, Maya, Wulan, Panca, di Jangli. Menu favorit kala itu adalah serial kungfu Sia Tiauw Enghiong dan Sin Tiauw Hiap Loe.

Bareng Eddi lah pertama kali aku kepikiran nerbitin novel. Saking gatelnya, waktu itu kami sampai bikin novel sendiri dari buku tulis (buku biru Cap Banteng, buku paling populer kala itu). “Novel pertama”-ku waktu itu berjudul Yang Dinanti Datanglah Jua. Genre-nya melodrama anak-anak. Kisahnya tentang kakak-beradik yang terpisah karena banjir dan lantas ketemu lagi namun nggak menyadari bahwa mereka saudara kandung.

Novel YDDJ komplet dilengkapi dengan “kaver” (ilustrasi by me!) dan kredit penerbit kayak di buku beneran. Nama “perusahaan” penerbitnya pun ada, yaitu CV Eka Jaya Sakti alias EJS. Yang lucu, di bagian depan tertulis cetakan pertama pada bulan Desember 1982, tapi di bagian ending ada tag tanggal tertulis Februari 1983. Masa ada buku tanggal cetakannya lebih awal daripada tanggal selesai penulisannya? Huehehe…!

Kami juga sempat jadi kartunis amatiran selama beberapa bulan. Jadi waktu itu almarhum Bapak pegang rubrik kartun di Minggu Ini (edisi Minggu Suara Merdeka, sebelum berevolusi jadi Cempaka Minggu Ini dan SM kemudian nerbitin Edisi Minggu). Karena aku masih getol belajar ngartun dan ngomik, aku dikasih lahan untuk ikut nimbrung di rubrik itu.

Maka aku pun ikut nggambar kartun dengan nama Top 84 (kemudian Top 85, sesuai tahunnya). Tokoh kartunku selalu gundul, berhubung dulu aku sempat gundul juga. Aku lantas ngajak temen-temenku untuk ikut gambar kartun juga, termasuk Eddi, Pratmono, dan adikku si Itok.

Waktu itu kartunis idola kami adalah almarhum Edy PR, yang selalu menambahkan nama gengnya, POKAL, di belakang nama. Berhasrat mau bersaing dengan POKAL, KOKKANG, dan SECAC (organisasi perkartunan Semarang awal 80-an), kami pun bikin kelompok sendiri, yaitu PANIK (Paguyuban Kartunis Genuk).

Selama beberapa edisi berturut-turut, karya kartunis-kartunis cilik dari PANIK bergantian menghiasi rubrik kartun MI. Kami pun sudah belajar nyari duit sendiri (uang honorku dikumpulin Ibu dan dibelikan celana pendek!). Tapi namanya ya anak-anak, begitu bosan, profesi sebagai kartunis pun ditinggalkan untuk nyari hobi lain.

Selain lewat rubrik kartun di koran, Eddi dan aku juga nyari duit dengan mendirikan perpustakaan (persewaan buku). Namanya Perpustakaan Rajawali. Modal bukunya ya komik dan novel punya kami yang lalu dikumpulkan jadi satu. Ketika itu geliat enterpreneurship kami udah kayak wirausaha sungguhan.

Kami sempat bikin stempel Perpus Rajawali dan member card. Lantas di balik kaver belakang tiap buku ditempeli kartu tanda kembali mirip buku-buku perpus sekolah. Nggak lupa di atasnya ada judul “DATE DUE” meski belum tahu date due itu artinya apa! Anggota Perpus Rajawali ya rata-rata teman sekolah dan anak-anak tetangga kanan-kiri.

Nah, pas kelas VI, di mapel Bahasa Indonesia, guru kelas kami Pak Supadi ngasih tugas bikin sandiwara kelompok. Eddi dan aku kebetulan satu kelompok, bareng anak-anak lain kayak Pratmono, Erwanto, Mangapul Ramli, Zainur Rofiq, Sriyono, dan juga Ardi Purnomo.

Aku kebagian nulis naskahnya, dan kukasih cerita berjudul Insyaf. Ceritanya tentang pecandu narkoba yang tertangkap polisi, dimarahi ayahnya, dan lantas insyaf. Aku lupa pembagian perannya. Yang jelas waktu itu peranku ada dua. Satu sebagai Kapten Polisi, dan satunya lagi sebagai…. sound effect pintu!

Bener. Waktu itu suaraku “iiiyeeeeekkk….!” mirip sama pintu yang engselnya karatan, jadi aku dikasting jadi pintu! Pas adegan polisi datang mengetuk pintu, aku beraksi sebagai pintu yang dibuka. “Permisiii…!”, “Tok, tok, tok!”, “Monggo!”, “Iiiyyeeeeekk…!”.

Selain sandiwaranya dipentaskan di kelas, kami juga ditugaskan merekamnya di kaset. Pas rekaman diputar di kelas sebelum kelompok kami pentas, anak-anak pada ketawa dengar sound effect pintu. Habis itu yang main giliran kelompok anak-anak perempuan, Dhanita Amir cs. Di sandiwara mereka, ada adegan pisau belati dilempar ke meja dan bikin penonton kaget!

Tahun 1986, Piala Dunia FIFA digelar di Meksiko. Kami sama-sama maniak bola. Dan saking ngefansnya, Eddi sampai melakukan hal yang sungguh ganjil. Dia menulisi daun-daun pohon jambu di pekarangan rumahku pake spidol dengan nama-nama pemain terbeken di Piala Dunia saat itu. Ada daun ditulisi Altobelli, Careca, Francescoli, dan lain-lain!

Suatu saat habis ortunya pulang dari naik haji, temen-temen segeng ngumpul di rumahnya untuk menerima oleh-oleh cendera mata dari Arab Saudi. Aku dioleh-olehi tasbih mini dan Alquran mini yang kuwecuiiil buanget (sayang kedua benda penting itu sekarang sudah hilang).

Sambil nongkrong, Mono, Itok, dan aku ngemil. Salah satu yang paling laris adalah kacang Arab. Maklum, camilan mancanegara. Awalnya kami heran, kok rasanya pahit dan agak tengik kayak snek kadaluarsa gitu. Tapi dengan pedenya Mono lantas bilang, “Kalo kacang dari Arab rasanya emang kayak gini!”

Maka kami pun meneruskan ngemil dengan antusias meski rasanya pahit. Baru sesaat kemudian Eddi ikut ngemil juga. Pas tahu rasanya pahit, dia mengerenyit dan mengecek serta menghidu kacang di stoples. Tahu-tahu dia bangkit dan membawa pergi stoples kacangnya sambil menggeremeng,

“Woo… kacangnya udah tengik…!”

Yang lain pun hanya saling berpandangan dengan tampang bego.

Tuesday, October 06, 2009

Senopati Nina Bobo


Saat melihat kaver novel Panembahan Senopati: Geger Ramalan Sunan Giri karya Gamal Komandoko, ingatanku langsung melayang ke Senopati Pamungkas, masterpiece cersilnya Arswendo Atmowiloto. Aku mengira, Panembahan Senopati akan sama seperti Senopati Pamungkas, sebuah cerita silat berlatar belakang sejarah yang seru, mendebarkan, dan memberi banyak pengetahuan baru.

Sayang dugaanku meleset luar biasa jauh. Tak hanya sama sekali tak mendekati Senopati Pamungkas, Panembahan Senopati juga mirip sebuah antiklimaks. Gagah di judul dan kover (terlebih ada reklame “Sebuah Novel Epos Penuh Gelora” diapit daun palem mirip film pemenang Oscar atau Cannes!), tapi mengecewakan di isi.

Sebagaimana judulnya, novel terbitan Diva Press Yogyakarta setebal 395 halaman ini berkisah soal romantika hidup Panembahan Senopati ing Alaga, pendiri dinasti Mataram yang berkuasa di Jawa hingga kini (menjadi Keraton Yogyakarta dan Keraton Kasunanan Surakarta). Senopati yang bernama kecil Danang Sutawijaya adalah putera Ki Pemanahan, saudara seperguruan dan sekaligus tangan kanan Sultan Pajang Hadiwijaya.

Sesudah bersama Ki Juru Mertani dan Ki Penjawi, Ki Pemanahan membantu Hadiwijaya membunuh Adipati Jipang Arya Penangsang, ia dianugerahi tanah di Alas Mentaok. Dibantu Ki Juru dan Sutawijaya, Ki Pemanahan mendirikan kota Mataram, yang di bawah administrasi Pajang berbentuk sebuah kademangan. Ketika Ki Pemanahan wafat pada tahun 1584, Sutawijaya menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pemimpin Mataram bergelar Senopati ing Alaga.

Sesudah itu, hidup Senopati sebagai penguasa Mataram dipenuhi perang dan berbagai ekspedisi invasi untuk memperluas daerah kekuasaannya. Sesudah nyaris berperang melawan Pajang, ia dibantu Adipati Jipang Pangeran Benawa merebut Pajang yang dipimpin Sultan Pangiri, dan terakhir melakukan serangkaian penaklukan kawasan timur pulau Jawa.

Dalam skala yang berbeda, masalah yang dipunyai novel ini sama dengan yang dipikul Oliver Stone lewat Alexander: terlalu ambisius. Dengan media yang terbatas (durasi sekian menit untuk film dan ketebalan sekian ratus halaman untuk buku), biografi penuh seorang tokoh besar sekaliber Alexander Agung dan Panembahan Senopati tak akan mungkin tertampung dengan sempurna.

Novel ini pun mengkover nyaris kisah hidup Senopati seumur hidupnya, dimulai dari saat ia masih remaja dan hendak hijrah meninggalkan Pajang menuju Mataram (sekitar tahun 1580-an) dan berakhir dengan saat ia meninggal tahun 1601. Hanya dua dekade, tapi banyak cerita menarik terjadi dalam kurun waktu itu. Maka, peristiwa demi peristiwa penting pun hanya sanggup diceritakan selintas mirip sinopsis.

Dan penggemar cerita silat (sepertiku) pasti akan langsung kecewa, karena sama sekali tidak ada sekuen pertarungan silat di buku ini, sebagai akibat dari penceritaan event demi event yang hanya selintas-selintas tadi. Keampuhan dan ketokohan tiap karakter pun cukup diungkap dengan istilah-istilah dari khasanah dongeng nina bobo, seperti “sakti mandraguna”, “digdaya”, atau “memerintah dengan arif dan bijaksana”. Untung ending-nya nggak berakhir dengan “…happily ever after”!

Namun Panembahan Senopati mungkin memang tidak dimaksudkan bermain di ladang yang sama dengan SH Mintardja atau Asmaraman S Kho Ping Hoo. Influence-nya pasti adalah kesuksesan luar biasa pentalogi Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi. Gamal Komandoko pun sebelumnya pernah menulis novel yang sama-sama biovel (biography novel, saingan biopic!), yaitu Jaka Tingkir: Jalan Berliku Menjemput Wahyu. Ia juga menovelkan dua tokoh sejarah lain, yaitu Sanggrama Wijaya dan Trunojoyo.

Untuk ukuran zaman sekarang, penceritaan model dongeng nina bobo yang dipakai Gamal rasanya sudah amat ketinggalan. Pembaca yang makin kritis dalam menganalisis sejarah butuh novel yang lebih mendekati realitas, bukan lagi berbasis klenik-metafisik semisal wirayatuya (ramalan) Sunan Giri, tubuh Senopati yang kebal mirip pemain debus, atau air kelapa muda nan sakti yang mengandung wahyu raja-raja.

Bahwa semua unsur itu masih tetap eksis di khasanah budaya Jawa bahkan hingga abad ke-21 sekarang ini, sah-sah saja untuk tetap ditampilkan. Tapi berdasar referensi sejarah yang lain, patut pula pembaca diberi penjelasan tentang watak Senopati yang ambisius memperluas wilayah bukan hanya semata karena wirayatuya, namun karena ingin mengangkat derajat keluarga besarnya yang berasal dari kasta masyarakat terbawah menuju kalangan elit para penguasa.

Seri buku sejarah Mataram karya De Graaf menjelaskan, Senopati penasaran karena oleh para penguasa lain di Jawa pada abad ke-16, ia direndahkan dan tak dianggap sederajat. Ayahnya, Ki Pemanahan, hanya orang desa biasa yang sama sekali tak dialiri darah biru warisan Majapahit sebagaimana penguasa Demak, Jipang, Pajang, dan negeri-negeri Bang Wetan macam Madiun dan Surabaya.

Dan pelecehan itu makin kentara ketika ia hanya boleh memakai gelar Panembahan sesudah Mataram menjadi negara merdeka dan membawahi Pajang, Jipang, serta Demak. Panembahan adalah gelar penguasa yang berada setingkat di bawah Sultan atau Sunan, dan setingkat di atas Ki Gede (penguasa tanah perdikan, tanah merdeka yang bebas dari pajak atau upeti).

Sekadar info, dari buku De Graaf juga, penguasa Jawa waktu itu harus meminta izin berkuasa dulu ke Sunan Giri. Setelah diberi izin berkuasa, ia juga menerima gelaran resmi. Hadiwijaya menerima gelar sultan dari Sunan Giri. Demikian pula disebutkan, sesudah memerdekakan Mataram, Senopati minta izin ke Sunan Giri, tapi hanya pulang membawa gelar Panembahan.

Mas Jolang, pewaris tahta Mataram sesudah Senopati, juga hanya bergelar Panembahan Anyakrawati. Mataram baru dipimpin oleh seorang sultan sesudah Keraton Giri diserbu dan pewaris kedudukan Sunan Giri ditaklukkan pada awal abad ke-17 oleh tokoh yang kelak memakai nama gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma.

So, sumber penulisan novel sejarah pun akan lebih baik berupa buku-buku sejarah karya De Graaf atau Slametmuljana dan tak melulu bersandar pada roman dongeng nina bobo seperti Babad Tanah Jawi atau Babad Demak yang penuh cerita-cerita fantastik penuh simbolisme.