Thursday, May 01, 2008

Hujan di Hati Stephie: On Location


Sutradara & Line Producer

Seperti yang direncanakan semula, syuting perdana FTV Hujan di Hati Stephie arahan Mas Handry TM terselenggara hari Senin 28 April 2008 kemaren. Syuting indoor berlokasi di rumah keluarga Bapak Nirwan di kawasan Klipang, hanya berjarak dua rumah dari kediaman Pak A Bowo Wasono, produser, dan nggak jauh dari rumah Mas Budi Maryono alias Om Daktur Kantin Banget, line producer.
Syutingnya sendiri udah dimulai sejak siang pukul 12, tapi aku baru bisa nyusul sekitar pukul 14 bareng Okta karena terlebih dulu harus ke Telkomsel nanyain soal sponsorship. Naik motor menuruni tanjakan curam Sigarbencah, Okta kerepotan bawa kamera dan tripod untuk keperluan pengambilan gambar Behind the Scene, sedang aku ribet bawa dua backpack sekaligus. Satu punya Okta di depan, punyaku sendiri di belakang.

Persiapan Syuting

Begitu tiba di TKP, syuting sudah dimulai, yaitu untuk adegan Stephie di kamar oleh kedua pemeran utama, Sella yang jadi Stephie dan Putra yang main sebagai Lukas. Suasana luar biasa panas menyengat, membikin semua orang jadi kegerahan bukan main. Tapi syuting tetep harus berjalan sesuai rencana.
Adegan demi adegan diatur Mas Handry. Kamera dikendalikan Om Harry Sioe sebagai director of photography. Sekadar info, Om Sioe udah amat berpengalaman karena doi kerap men-shoot videoklip-videoklip Didi Kempot. Om Daktur sendiri sibuk memotret. Om Diek getol mengarahkan pergerakan akting para pemain. Okta syuting sendiri untuk Behind the Scene. Sedang aku sebagai screenwriter cukup nonton sambil bertanggung jawab dalam hal logistik untuk makan malam!

Harry Sioe

Setelah syuting indoor, tiba giliran pengambilan gambar outdoor tokoh Odi (Bayu Combot) naik motor, lalu adegan Stephie & Lukas pacaran di pasar sampai menjelang magrib. Sempat kecapekan, cast & crew makan bakso dulu di warung bakso pasar untuk mengisi perut karena kiriman nasi kerdusan belum datang.
Syuting sesi terakhir diisi dengan pengambilan beberapa adegan indoor lagi. Hanya tiga scene dan waktunya pun pendek-pendek, tapi ternyata bisa makan waktu dua jam lebih. Total semua proses syuting hari pertama baru selesai sekitar pukul 21. Sambil makan bareng-bareng, para kru melepas lelah dengan menyanyi diiringi organ tunggal Pak Nirwan.


Putra & Sella Diawasi Om Diek

Gara-gara terpanggang hawa panas pas siang ke Telkomsel bareng Hita dan Pak Pur, aku mengikuti syuting hari pertama dengan badan dan stamina kacau. Terlebih aku sebenernya masih agak sakit flu berat sisa hari Jumat dan Sabtu. Dan lagi, aku kebetulan pas pakai baju yang kainnya bener-bener nggak nyaman di badan.
Tapi semua kekacauan itu lenyap begitu aku nyadar ini betul-betul pengalaman syuting pertamaku. Ini pertama kalinya aku menunggui on location syuting sinetron yang dibuat dari skenarioku. Dan meski masih banyak kekurangan di sana-sini, suasananya bener-bener oke dan menggairahkan.
Tahun 2004 lalu skenario Roro Jonggrang-ku pernah disyuting, tapi aku nggak ikut ngawasi. Setahun kemudian, skenario Petualangan Intan dan Oddi-ku juga disyuting. Waktu itu bahkan pake artis beneran, yaitu Asty Ananta dan Frans Mohede. Tapi saat itu aku juga nggak ikut menunggui di lokasi.

Akting Beneran

Ya baru sekali ini aku ada di TKP. Ikut sibuk bareng para kru lain, ikut mengatur kerumunan penonton agar nggak ribut saat kamera lagi rolling dan para aktor tengah berakting, dan ikut nongkrong serta mengobrol bareng para pemain.
Malamnya, pas berkemas-kemas hendak pulang bareng Okta, mendadak di benakku mampir satu kalimat bijak yang berbunyi “A journey of a thousand miles begins with a single step…”.
Hari ini, single step itu sudah dimulai. Next, kami akan pergi sejauh ribuan mil ke depan…

Saturday, April 19, 2008

Senja di Ruang Joglo

Ada yang beda di taman pekarangan Ruang Joglo kompleks SMK Negeri 11 Semarang sepekan terakhir ini. Tiap sore mulai pukul 15.30 WIB, taman berumput yang asri, teduh, dan lapang itu dipenuhi para ABG keren-imut yang sibuk berlatih akting, penghayatan, serta hapalan dan pelafalan dialog.
Mereka adalah para cast alias pemeran di FTV Hujan di Hati Stephie besutan Mas Handry TM. Satu demi satu mereka bermunculan, mulai dari Sella, kemudian Deli, Zella, Putra, dan juga Laras. Bareng-bareng mereka dilatih oleh Om Diek Soesanto, salah seorang tokoh seni peran Kota Semarang yang pernah ikut terlibat dalam proses produksi banyak judul sinetron Ibukota.
Sella sendiri adalah murid kelas XII SMA 3 Semarang yang anggota Geng Kantin Banget Suara Merdeka. Aku sudah lama kenal cewek cantik satu ini. Deli dan Zella adalah para model dari Exis’t Bayu Ramli. Mereka pernah jadi kover Majalah Gradasi. Deli untuk edisi November 2007, sedang Zella edisi Februari dan Maret 2008.
Laras muncul agak belakangan. Doi adalah anggota ekskul teater SMK 11 yang setelah dites oleh Om Diek ternyata memiliki skill akting paling brilian. Satu yang aku belum kenal adalah Putra. Belakangan, dia ngajak satu temannya yang bernama Ryan untuk ikut bergabung di daftar cast.
Latihan-latihan di Ruang Joglo berlangsung serius tapi rileks dan seru. Sengaja dipusatkan di SMK 11 karena bagaimanapun ini kan produksinya Majalah Gradasi. Dan lagian, kalo diadakan di kantor SM di Jalan Kaligawe pasti repot banget karena harus berhadapan dengan banjir dan rob. Tiap sesi latihan diawasi oleh Mas Handry, Mas Budi Maryono alias Om Daktur yang jadi produser, dan Pak Bowo Wasono (Direktur UP Gradasi) yang juga jadi produser. Kru Majalah Gradasi seperti Dewi (Redpel), Dhiyan, dan Iin menjadi seksi sibuk nyiapin segala perlengkapan latihan termasuk snek dan minum. Sedang Okta dan aku ikut sibuk pula merekam proses latihan untuk bahan klip The Making of… atau Behind the Scene-nya nanti.
Di foto di atas nampak kesibukan semua cast dan kru saat latihan hari Senin 14 April 2008 lalu. Dari kiri ke kanan adalah Om Diek, Okta yang lagi ngontrol kamera, Om Daktur yang sedang motret para pemeran, aku yang entah lagi melihat apa aku sendiri nggak inget, serta duo kiyut Sella dan Zella yang lagi tertawa riang gembira.
Kamera yang dipakai Okta adalah properti Jurusan Multimedia SMK 11. Kebetulan kan dia kelas II Multimedia, jadi proyek ini sekalian jadi ajang latihan gratis buat dia dan teman-temannya.
Dan karena kru g-Mag wataknya aneh-aneh, ada saja yang terjadi selama latihan. Mulai dari Iin dan Dhiyan yang cerewet minta ampun sampai bikin Om Daktur heran, Okta yang mau minta roti tapi malu, Om Daktur yang malah lebih sering motret Okta daripada para pemeran, sampai sifat penakut Dewi yang selalu jadi target kejahilanku bareng Okta.
Terlebih acara latihan pasti berlangsung sampai magrib, dan trio Dewi-Okta-aku selalu jadi yang paling akhir meninggalkan TKP karena harus mengembalikan kamera, mengunci ruang Redaksi, dan mengembalikan kunci ke Pak Jurukunci. Tiap kali suasana mendukung, cukup dengan suara ketawa mengikik atau menyebutkan kata “pocong”, “kuntilanak”, atau “arwah penasaran”, Dewi pasti udah langsung menjerit sambil lari terbirit-birit!

Sella
Akhirnya, setelah melalui serangkaian pengamatan dan seleksi, alokasi peran pun ditetapkan. Pemeran si tokoh utama Stephie adalah Sella, Lukas dimainkan Putra, Deli kebagian peran jadi Odi, dan Zella sebagai Fany. Yang lucu adalah Laras. Karena aktingnya oke sementara jatah karakter udah habis, terpaksa kita harus bikin karakter baru di dalam cerita untuk diperankan olehnya.
Setelah seluruh kegiatan reses hari Selasa, Rabu, dan Kamis (22-24/4) ini karena Sella ikut Uanas, syuting pertama akan dibuka Kamis-nya (tanggal 24) berlokasi di Klipang. Hari Sabtu (19/4) sore, semua pemeran utama menjalani sesi pemotretan di Studio 2000, Jl MT Haryono, Semarang, untuk kover g-Mag bulan Mei dan juga poster film. Okta dan aku juga ikut pose. Aneh banget rasanya! Lha, wong biasanya nggak pernah difoto gegayaan…

Thursday, April 10, 2008

Bukan Sineas Jakarte

Sejak dulu film selalu jadi impian terbesarku setelah dunia pernovelan. Karena sebal terhadap film Indonesia yang sukar maju, aku penasaran untuk bisa bikin film sendiri. Untuk membuktikan bahwa sebenernya bikin film yang berkualitas dan berbeda itu mudah, kalau kita mau terus belajar, rendah hati, dan nggak pernah merasa selalu lebih pinter dari orang lain.
Aku pun nggak pernah mandeg berupaya menembus “tembok Jakarta” untuk masuk ke dunia perfilman, tentu saja lewat bidang yang paling kukuasai, yaitu penulisan skenario.
Tahun 1997 lalu aku menggarap skenario yang didasarkan atas komik Pak Bei karangan bapakku, Pak Masdi, yang dipesen TPI. Tahun 1999 menang lomba penulisan naskah film dan video cerita gelaran Departemen Penerangan RI dan setahun kemudian dapet juara harapan III lomba penulisan naskah skenario sinetron DKJT.
Yang agak mendekati, aku pernah kerja untuk Paquita Widjaja dan Humam Afif untuk sinetron Roro Jonggrang. Dan tahun 2006 pernah juga kerja untuk Boy Kentang mengerjakan sinetron Lima Titipan Ilahi yang tayang di TPI.
Sayang semuanya kandas karena berbagai sebab. Sinetron Pak Bei kandas karena TPI kena krismon ’97. Dua kali menang lomba nggak membuatku masuk ke dunia manapun, cuman dapat piagam dan duit tok. Dengan Humam di-PHK karena nggak klop soal konsep. Dan dengan Boy Kentang juga out karena ide-ideku untuk membenahi gagasan cerita yang dogol nggak diterima (itupun sampai sekarang sinopsis globalnya tetep belum dikasih honor—mungkin dikiranya penulis skenario daerah itu sudah cukup puas kerja sosial dan bisa kenal dikit-dikit dengan seleb Jakarte!).
Sekarang, kesempatan untuk jadi filmaker terbuka lagi. Bedanya, yang ini film lokal yang digarap oleh seniman-seniman yang sama-sama penasaran dan gondok dengan kualitas dan iklim kerja sinema Ibukota (baik sinetron maupun film layar lebar). Gradasi alias g-Mag, majalah remaja tempatku bekerja sekarang, bikin film televisi yang berjudul Hujan di Hati Stephie.
Bekerja sama dengan Kantin Banget Suara Merdeka dan Cakra Semarang TV, FTV satu ini diangkat dari cerpen berjudul sama karangan cerpenis dan novelis ngetop, Nora Umres. Bertindak sebagai sutradara adalah bosku General Manager g-Mag, Mas Handry TM. Production house-nya sendiri adalah Rumah Kertas Production milik sang sutradara.
Mas Budi Maryono, yang lebih dikenal sebagai Om Daktur Kantin Banget, pegang posisi line producer. Sedangkan jabatan produser lainnya dipegang oleh Pak A Bowo Wasono, Direktur Unit Produksi Gradasi SMK Negeri 11 Semarang, penerbit g-Mag. Aku, as usual, menjadi penulis skenario merangkap sutradalang klip Behind the Scene-nya.
Proses produksi udah dimulai sejak berkali-kali rapat kecil-kecilan antara Mas Handry, OD, dan aku di Java Mall, entah di Meja 13 Food Court lantai III atau di Kafe Luwak lantai II. Begitu konsep mateng dan jadwal produksi disusun, Kamis sore 10 April 2008 lalu para kru dan calon pemain dikumpulin di Ruang Joglo SMK 11 untuk meeting awal.
Rencananya akan ada reading skenario, rehearsal, dan juga tumpengan slametan syuting, sebelum syutingnya digeber maraton pada pekan ketiga April. Setelah pascaproduksi dan launching, kemungkinan akan ada tur promo ke sekolah-sekolah di seputaran Semarang selama kira-kira sebulan.
Dan setelah filmnya tayang di Cakra TV pada pekan pertama bulan Juni, nanti akan ada juga tur pemutaran ke berbagai sekolah dan kampus. Aku akan terus ngasih update perkembangan produksinya dari waktu ke waktu di blog ini. Info lain bisa juga nongol lewat blog-nya Majalah Gradasi (http://gradasimagz.blogspot.com).
Buatku, FTV Hujan di Hati Stephie adalah bentuk perlawanan sineas daerah terhadap kebobrokan dunia sinema (especially sinetron) Indonesia yang dikuasai Punjabi, Shanker, Sutanto, cs. Di sini nggak akan ada ketololan-ketololan yang dipertunjukkan para sineas Jakarte, kayak anak sekolah bermobil mewah, pelajar cowok SMA berambut gondrong/disemir/disasak ala salon, adegan monolog atau membatin yang terlalu dhedhel (“dhedhel” Bahasa Indonesia-nya apa, ya?), orang memasang mimik sinis atau sadis, karakter jahat tanpa sebab, hamil di luar nikah, orang-orang merubung dokter sambil bertanya “Bagaimana, Dokter?” lalu dijawab “Kami sudah berusaha, tapi…”, dan juga nggak ada tokoh yang mati lalu jenazahnya dikrukupi kain mori lalu diusung ke kuburan diiringi “Laillahahilallah…!” 100x dan ditangisi oleh serombongan seleb berbaju serba hitam dan semua memakai kacamata riben mahal!
So, kalau mau nonton sesuatu yang beda, tunggu aja premiere Hujan di Hati Stephie ntar bulan Juni. Kalau mau nonton syutingnya dan ngincer jatah pemain figuran atau cameo, tinggal kontak aku. Syutingnya di dalam Kota Semarang aja kok, nggak sulit-sulit.
Check back here for updates and further information!

Monday, April 07, 2008

NKOTB

Ada berita besar yang muncul dari dunia entertainment Amerika dalam minggu kemarin, yaitu New Kids On The Block akan balik lagi tur dan rekaman tahun ini. Seenggaknya besar buatku, karena NKOTB adalah salah satu band favoritku dari zaman ABG dulu.
Aku baca di internet, Jon dan Jordan Knight, Danny Wood, Donnie Wahlberg, dan Joe McIntyre akan tur keliling Amerika mulai Mei. Dan bulan Agustus nanti, mereka akan masuk studio untuk melakukan rekaman album terbaru mereka, tepat 14 tahun sejak album terakhir mereka, Face the Music, terbit.
Bagi sebagian teman dari generasi remaja akhir 1980-an dan awal 1990-an, NKOTB adalah guilty pleasure terbesar. Ada yang malu mengakui dulu pernah sebegitu hebohnya jadi Blockhead. Malah ada juga yang terang-terangan mengingkari kenyataan bahwa dulu mereka pernah suka pada NKOTB.
Semua gara-gara imej boyband yang jadi nggak sedap setelah era Westlife yang membuat boyband-boyband (terutama dari Eropa) bermunculan keroyokan dengan kondisi yang sama: penting cakep-imut, pinter nge-dance, lagunya manufaktur bikinan pabrik, dan bersuara pas-pasan. Sebut saja Bed & Breakfast, OTT, C21, A1, 911, Caught In The Act, O-Town, Mytown, dll.
Tapi buatku, NKOTB adalah icon sejati. Aku nggak pernah malu dulu suka sama mereka, karena sampai sekarang pun masih. Tentu saja aku nggak ngefans karena rupa mereka. Juga bukan karena musik mereka, yang jelas “buatan pabrik” dari studio (atau keyboard-nya!) Maurice Starr. Yang bikin mereka menginspirasiku adalah kekompakan mereka—atau seenggaknya keberhasilan mereka dalam membentuk imej lewat media bahwa mereka kompak bersahabat.
Pada saat Hangin’ Tough pertama kali meledak tahun 1989, aku masih kelas II SMA dan sedang senang-senangnya ngegeng. Di sekolah aku punya geng Tiga Menguak Tabir, The Loel-Team (pelesetan The A-Team!), dan Kejar Siong. Sedang di lingkungan keluarga, aku punya Geng Ucok. Ketika itu, NKOTB adalah role model-ku dalam mengelola geng. Bikin geng seperti NKOTB yang kompak dan erat, maka barulah gengku layak disebut geng sejati.
Dan setahuku, sepanjang zaman NKOTB pun nggak pernah kena masalah di antara mereka sendiri. Sejak dulu sampai sekarang, formasi mereka yang tetap berlima. Dulu mereka sepakat bubaran karena album Face the Music nggak laku, dan menyadari bahwa era mereka emang udah habis. Tapi bukan karena bentrok member seperti boyband-boyband lain.
Tengok dua grup boyband yang kini mengilhami NKOTB untuk melakukan reuni, yaitu Take That dan Backstreet Boys. Keduanya sama-sama kehilangan satu member. TT nggak lagi bareng Robbie Williams, dan BSB ditinggal pergi Kevin Richardson. Sedang Westlife yang masih terus rekaman udah lama kehilangan Bryan McFadden.
NKOTB bukan pula jenis “boyband satu lakon”. Maksudnya boyband yang hanya menonjolkan satu member tertentu dan yang lainnya cukup jadi backing vocal forever. Misalnya kayak Boyzone yang intinya cuman mengetopkan Ronan Keating sedang keempat teman lain harus puas terus-menerus cuman nyanyi “uuuuhh..” atau “aaaahhh…” dan sesekali nyenggaki (“nyenggaki” Bahasa Indonesia-nya apa ya?) satu-dua bait chorus.
Juga nggak kayak *NSYNC yang belakangan cuman jadi “milik perseorangan” Justin Timberlake tok. Begitu Justin ngetop, grupnya terbengkalai nggak ada yang ngurusin lalu bubar dengan sendirinya. Gampang ditebak, ntar kalo Justin karatan, pasti deh doi yang paling dulu minta reuni *NSYNC dan Lance Bass, JC Chasez, dll terpaksa nerima karena emang mereka nggak tahu gimana lagi harus berkarier di luar grup!
Sebenernya dulu aku sangat menyayangkan saat NKOTB bubar pascaalbum Face the Music. Pasalnya, musik mereka udah berkembang makin mature ke arah genre adult contemporary, bukan lagi pop disko biasa. Coba deh dengerin If You Go Away yang dirilis tahun 1992, dan habis itu Eversince You Walked into My Life!
Taste musik NKOTB sudah beda sejak masih zaman album Hangin’ Tough dan Step by Step, karena produser musik mereka saat itu udah bukan lagi Maurice Starr, tapi Walter Affanasieff. Bagi yang suka musik-musik adult contemporary atau smooth jazz, nama satu ini pasti sudah nggak asing lagi.
So, aku amat menunggu kayak apa musik “reuni” NKOTB nantinya. Semoga udah bukan musik disko jedhug-jedhug lagi karena mereka udah berumur 30-an.