scribo ergo sum

Kamis, 15 Februari 2007

TVRI is the Best!

11:21 Posted by wiwien wintarto 9 comments
Senin malam kemaren (12 Feb) aku iseng mindah channel ke TVRI setelah seharian nonton channel-channel di dalam Astro. Cuman pengin tahu aja, kalau menjelang midnait gitu, TVRI muter apa. Acara tari-tarian, talk show kaku, atau acara-acara sampah kayak di TV swasta. Dan kejutan besar, karena yang tak sengaja kutemukan adalah rerun serial Sitti Nurbaya.
Terlihat jelas di layar tampang culun Gusti Randa dan Novia Kolopaking 20 tahun lalu (gosh… I never realize it was twenty years already…!). Juga ada akting memesona HIM Damsyik, Niniek L Karim, dan semua pemain pendukung lainnya. Pokoknya sepanjang setengah jam sisa siaran, aku bener-bener dibikin terbius oleh karya besutan Dedi Setiadi itu.
Sebenarnya, saat serial itu ditayangkan sekitar tahun 1987-1988 lalu, aku nonton juga sampai tamat. Tapi saat itu aku nggak merasa dia spesial dan bernilai tinggi. Aku bahkan menggerundel karena temanya cinta lagi cinta lagi, roman lagi roman lagi. Tidak bisakah sineas kita membuat karya sinema yang nggak melulu berisi orang omong-omongan tok sepanjang 60 jam, tapi ada pula unsur eksyennya dan berorientasi ilmiah-futuristik?

Tapi kini, di tengah cengkeraman tirani produser-produser moneychaser (pemburu uang) kayak Punjabi, Shanker, Leo Sutanto, dan semua orang di MD Entertainment, Sitti Nurbaya jadi terlihat indah, memikat, dan mengharukan. Infact, serial itu emang berkualitas tinggi, terlepas dari kebosananku pada perfilman dan persinetronan kita yang isinya cuman drama cintaaaaaaaaa melulu!
Semua sisi dalam Sitti Nurbaya digarap dengan rapi dan serius. Dedi Setiadi bisa mencari lokasi yang menggambarkan situasi pedesaan Sumatera tahun 1920-an, detail dalam menggarap tata busana zaman itu, kalimat-kalimat dialog yang bener-bener kuno dan mirip kayak dialog di novel Layar Terkembang yang tempo hari baru aku baca, dan bahkan bisa nemu sepur kuno.
Kalau kita ingat balik masa-masa itu, saat di TV kita baru ada TVRI, kita akan menyadari betapa ketika itu sebenarnya adalah masa keemasan sinetron kita, secara kualitas. Periode 1980-an adalah masanya ketika para produser, sineas, pemain, dan seluruh kru masih mau ngrekasa (menderita), masih mau kerja keras, dan masih mau menempuh hal-hal sulit kala memproduksi sinetron.
Bayangin aja, seperti apa besarnya tantangan yang harus dihadapi saat mereka mutusin untuk memproduksi Sitti Nurbaya atau Sengsara Membawa Nikmat. Karena ceritanya terjadi tahun 1920-an, maka sebagai konsekuensinya mereka juga harus bisa mengupayakan segala pernik-pernik zaman itu seakurat mungkin, mulai dari cara bicara, gaya bahasa, dialog slank khas ABG masa itu, gaya dandanan, make up, model baju, sepatu, aksesori, bentuk kursi-meja, arsitektur rumah, sampai model-model hiasan dinding, serta musik “Top 40” yang kala itu lagi ngetop.
Mereka terbukti mau melakukannya, mampu melakukannya, dan sanggup melakukannya dengan hasil yang baik. Bandingkan dengan sineas masa sekarang. Maksud hati ingin membesut Sitti Nurbaya dan Malin Kundang, tapi karena mereka malas mengupayakan pernak-pernik yang amat rumit itu (plus mungkin Nia Ramadhani dan Fachry Albar ogah rambut mereka ditata model era 1920-an selama syuting karena nggak keren kalau pas dipakai ngedugem atau nongkrong di kafe!), jadilah judul-judul itu disyuting dengan setting waktu masa kini. Hasilnya pun jadi aneh karena problema-problema yang terjadi pada masa itu udah nggak relevan atau bahkan udah nggak jadi masalah berarti lagi pada masa kini.
Kita juga masih ingat betul, semua judul sinetron TVRI pada tahun 1980-an amat bagus, berarti, meaningful, dan memorable. Dulu nonton juga kan Rumah Masa Depan, Jendela Rumah Kita, Losmen, Pondokan, Sartika, Kisah Serumpun Bambu, Keluarga Rahmat, serta ACI (Aku Cinta Indonesia) yang culun tapi asyik itu? Cerita-ceritanya sederhana, nggak bombastis, nggak ada ibu tiri jahat dan mertua psycho, nggak ada tokoh ganjil kayak Ncep, dan nggak ada orang yang mati disamber geledek dan jenazahnya dikerubuti belatung!
Dulu emang ada tokoh jahat yang nyebelin, kayak Bu Subangun (Thenzara Zaidt) dari serial Keluarga Rahmat. Tapi “kejahatan” dia adalah jenis-jenis karakter “pain in the a**” atau “stone in the shoe” yang kadangkala emang bener-bener eksis di sekitar kita, entah di lingkungan warga tetangga kanan-kiri atau di tengah kalangan keluarga besar kita, jadi kita pun masih bisa nyari sambungannya dengan kehidupan keseharian.
Dulu ada Tarjo (Mathias Muchus) yang ramah dan lugu, ada Jeng Sri (Dewi Yull) yang lemah hati, ada Gerhana (Andi Ansi) yang pendiam dan irit bicara, ada Mbarep (Nizar Zulmi) yang berpendirian teguh, ada Jojo (Dedy Jusuf) yang tengil, ada Bu Rahmat (Sitoresmi Prabunigrat) yang lembut dan penuh senyum, dan ada Cici (Diah Ekowati Utomo) yang disiplin dan rajin sekolah.
Ke mana perginya semua karakter menakjubkan itu? Sekarang yang ada hanya ABG-ABG pengejar pacaran yang memakai seragam SMA tapi sekolahnya istirahaaat mulu! Selain itu cowok-cowoknya ke sekolah pakai rambut gondrong, rambut dicat, dan rambut kribo karena para aktornya terkena sindrom “ogah rambutku dipotong soalnya nanti nggak keren” atau sutradara nggak sempat ndatengin tukang cukur soale harus cepet-cepet syuting karna besok Jumat udah mau tayang!
Dulu ada Tatiek Maliyati WS, Dedi Setiadi, Wahyu Sihombing, dan para kreator lain dengan background, pengalaman, basic, dan pengetahuan yang jelas di bidang teater atau sinematografi. Kini siapapun asal tinggal di Jakarta dan kebetulan anak orang jet set sehingga bisa kuliah perfilman di Amrik mak bedunduk bisa jadi sutradara atau DoP dan menghasilkan tontonan-tontonan yang membuat para budayawan dan pakar pendidikan mendelik marah!
Biang kerusakan sinetron kita jika direnungkan lebih dalam adalah telenovela Amerika Latin yang mulai masuk sini tahun 1991 saat RCTI menayangkan Wild Rose dengan bintang Veronica Castro. Ditambah dengan kemunculan klan Punjabi menjual hal-hal tak masuk akal mirip dalam opras-opras bikinan Meksiko, Kolombia, dan Venezuela itu, mulailah semua mengalami kemunduran parah sejak pertengahan era 1990-an.
Saat ini semua orang hanya tinggal produksi, produksi, produksi kayak pabrik sabun yang hanya memfotokopi satu model dijadiin 100 ribu pak dan langsung diangkut ke supermarket secepat mungkin. Yang terpenting adalah kita dapet duit sehingga bisa dipakai melancong ke Amrik atau Paris serta beli BMW. Soal mereka (maksudnya kita para penonton) jadi dongok massal itu bukan urusan kita!
Setelah kebetulan nonton Sitti Nurbaya kemarin, sungguh saat ini aku pengin memakai mesin waktu di novel Timeline-nya Michael Crichton untuk mbalik ke tahun 1987 pada hari Rabu malam pukul 21.30 dan menunggu jam tayang Losmen. Lalu aku bisa ketemu Bu Broto lagi, Pak Broto lagi, Pak Atmo lagi, dan… siapa itu si agen biro travel yang dimainin Didi Petet? Oh, ya… Dik Partono.

9 komentar:

  1. wah iya sinetron dulu memang bagus-bagus..
    kalau tidak salah dulu TVRI sering menayangkan sinetron-sinetron lepas.. model ftv gitu..
    saya masih ingat beberapa.. seperti th wrong gang (yang main kayanya Alm. Ateng) trus ada juga anak ayam turun sepuluh (adaptasi Then There Were None-nya Agatha Christie?) dan masih banyak lagi..
    ada apa ya dengan pertelevisian kita..
    eh tapi sekarang sudah mulai membaik nampaknya.. salah satu sinetron yang sedang saya gandrungi sekarang ya Sinetron Jomblo.. ceritanya lumayan membumi dan kadang inspiring juga, entah kalau persoalan sinematografisnya. Ayo mas! review sinetron Jomblo aku pingin tau apa tanggepan mas.. :-p
    Tapi denger2 ratingnya kurang bagus sih.
    Sinema layar lebar kita sudah mulai membaik.. ini saatnya sinetron layar kaca unjuk gigi, secara kualitas tentunya.
    weleh aku komen lumayan panjang ya?

    BalasHapus
  2. aku jarang nonton Jomblo, soale RCTI di TVku klepyur gara2 cuman pake antena kecil :( btw aku udah baca bukunya yg karangan Adhitya Mulya. lumayan bagus tp kadang kelucuannya terlalu dipaksa2in, spt footnote aneh2 terus-menerus, imajinasi aneh2, dan yg paling parah adegan ayam masuk kampus. terlalu absurd...
    tapi ntar coba deh kutonton. kayaknya emang beda

    BalasHapus
  3. Hiburanku di televisi sekarang bukan sinetron, apalagi infotainment,tapi bal-balan!

    BalasHapus
  4. Wah aku paling seneng baca review mas Wien! Kerenz!
    Jujur aku jg udah muak ama klan Punjabi yg udah nguasain hampir semua perfilman Indonesia! Semua film en sinetronnya "SUCK!!!".
    Ak jd kangen masa2 dulu perfilman Indonesia yg merakyat dan jujur!
    Sukses buatmu Mas!!!!

    BalasHapus
  5. Anonim22.02

    BOICOTTSS FOR BLOODY STUPID SINETRON ... MULAI DARI DIRI KITA...KELUARGA KITA...GAK USAH DITONTON ITU THE HELL SINETRON. Semuanya karena pasar. gak ada demand ya supply-nya pasti mati pelan2

    BalasHapus
  6. pilot_A320AIRBUS15.21

    wah..jadi inget masa lalu,pas smp.ada ACI(amir cici ito..hehhe),terus lagu2 cantik spt gift of lovenya bette midler,here in my heartnya tiffani.perasaan sekarang..gak sinetron,gak lagu(kampungan semua).yang lebih sedih lagi..byk bgt penggemarnya.padahal murahan bgt.spt asal2an(kejar tayang)low sense bgt deh selera anak muda jaman sekarang..hahaha.hidup masa remaja!!i miss u.joseph_pilot_747@yahoo.com

    BalasHapus
  7. Anonim18.35

    Betul Banget....sinetron dulu bagus dan realistis banget..tidak merusak moral...sekarang OMG...anak-anak gw aja..saya larang nonton sinetron dan lawak Indonesia..jelas-jelas merusak moral..

    BalasHapus
  8. ini dah 3 tahnu lalu ya postnya :)
    coba masuk ke http://kotarominami.multiply.com dijamin kenangan jaman dulu teringat kembali :)
    hehe

    BalasHapus
  9. http://reretaipan88.blogspot.com/2018/07/asiataipan-taipanqq-taipanbiru-cara.html

    Taipanbiru
    TAIPANBIRU . COM | QQTAIPAN .NET | ASIATAIPAN . COM |
    -KARTU BOLEH BANDING, SERVICE JANGAN TANDING !-
    Jangan Menunda Kemenangan Bermain Anda ! Segera Daftarkan User ID terbaik nya & Mainkan Kartu Bagusnya.
    Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
    1 user ID sudah bisa bermain 8 Permainan.
    BandarQ
    AduQ
    Capsasusun
    Domino99
    Poker
    BandarPoker
    Sakong
    Bandar66

    Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
    Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
    customer service kami yang profesional dan ramah.
    NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
    Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
    Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
    • WA: +62 813 8217 0873
    • BB : E314EED5

    Daftar taipanqq

    Taipanqq

    taipanqq.com

    Agen BandarQ

    Kartu Online

    Taipan1945

    Judi Online

    AgenSakong

    BalasHapus