scribo ergo sum

Kamis, 11 Agustus 2005

Floor 13

18:06 Posted by wiwien wintarto No comments
Salah satu hal yang bikin video game jadi sangat menarik adalah kemampuannya untuk “melemparkan” kita ke dunia, dan bahkan alur pikiran, yang lain. Kemampuannya untuk membuat kita bisa juga memahami hal-hal yang sebelumnya nggak pernah terlintas di benak kita sama sekali.
Ceritanya, di sela-sela lembur untuk Tabloid tren, seperti biasa saya keluyuran menjelajahi internet (situs porno? Wah, nggak lah! Itu udah lewat dan udah ketinggalan zaman banget!). Dan kemudian saya menemukan game yang luar biasa dan sangat breathtaking banget ini. Judulnya Floor 13.

Floor 13 merupakan sebuah turn-based strategy game yang sangat spektakuler. Di sini kita berperan sebagai tokoh misterius pemerintahan yang memiliki power dan kewenangan luar biasa untuk menjaga “keamanan” negara (dalam hal ini memastikan bahwa bos kita selalu memimpin atas golongan oposisi dalam polling popularitas).
Tokoh misterius ini berkantor di lantai 13 sebuah gedung perkantoran yang tak jelas dan tersamar di tengah Kota London. Secara gelap, dia menerima perintah langsung dari Downing Street nomer 10, yaitu PM Inggris sendiri. Karena merupakan tokoh bayangan, namanya nggak tercantum dalam rantai struktural pemerintahan, meski memiliki tugas yang sangat berat dan vital.
Dia biasa disebut dengan inisial DG (Director General) alias dirjen. Secara resmi jabatannya adalah DG Department of Agriculture and Fisheries (departemen pertanian dan perikanan), tapi tugasnya berada jauh di luar urusan panen padi dan mancing ikan. Tugas DG adalah menjaga agar berbagai kasus dan skandal yang terjadi di Inggris nggak sampai tercium pers sehingga kredibilitas pemerintah tetap terjaga.
Lewat laporan dinas intelijen atau kliping berita di koran, kamu bisa menginventarisasi kasus dan mengambil tindakan-tindakan seperlunya. Kasus yang muncul amat beragam, mulai dari ancaman terorisme, penculikan putra Presiden AS, hingga pidato keras aktivis buruh yang mengkritik pemerintah atau mantan pejabat tinggi yang agak sinting dan ngomong sembarangan di depan pers sehingga membuat nama baik pemerintah cemar.
Untuk membereskan permasalahan, kamu harus secepat mungkin menangani para tersangka. Jika berupa person, kamu bisa mengintai, membuntuti, dan menggeledah kediaman mereka. Dari sini akan bisa didapat sejumlah petunjuk yang mengarahkanmu pada para tersangka utama.
Selanjutnya, jika si trouble maker udah ketemu, bisa diambil langkah lanjutan yang lebih keras, mulai dari penculikan untuk proses interogasi (dan penyiksaan), teror penganiayaan (untuk membuatnya kapok!), sampai yang paling kejam: dilenyapkan dengan cara halus.
Kasus akan berhenti dengan sendirinya kalo para “subject” udah berada dalam keadaan inactive. Entah karena meninggal dalam penyekapan, tahu-tahu memutuskan untuk “berlibur ke luar negeri”, atau koma setelah ditabrak mobil.
Sedang jika tersangka berupa kelompok, tindakan yang bisa diambil ada dua, yaitu menginfiltrasinya dengan para agen intelijen dan melakukan disinformasi (fitnah) dengan menyebarkan informasi palsu untuk mencemarkan reputasi organisasi itu di depan publik.
Kalah-menang si DG hanya ditentukan oleh perolehan polling Perdana Menteri dalam rentang 3 minggu. Jika masih unggul, kariernya selamat dan akan dikasih unit-unit baru yang lebih banyak untuk melaksanakan semua kegiatan “security” itu. Tapi kalo perolehan polling PM tertinggal, kamu pun akan dipecat dan dipaksa untuk mengundurkan diri.
Yang jelas hati-hatilah dalam bertindak. Sebab kalo sampai aksi-aksimu terlalu menyolok dan bahkan tercium pers (atau polisi) yang menyebabkan reputasi pemerintah jatuh, PM akan dengan senang hati mengirimkan orang misterius lain bernama Mr Garcia ke kantormu dan melakukan tugas yang sama dengan yang kamu lakukan, yaitu melenyapkan secara halus!
Floor 13 mengingatkan saya pada masa Orde Baru lalu, ketika para aktivis antipemerintah diteror, diintimidasi, dianiaya, atau hilang secara misterius. Dan kini, tempo hari, Munir meninggal mendadak dalam penerbangan dari Singapura menuju Belanda. Apakah nasib tragis mereka juga merupakan ulah dari orang-orang kayak si DG dari game ini.
Peran sebagai DG memungkinkan kita untuk mencoba melihat dunia dari sebelah sana. Tempat yang selama ini kita benci karena menjadi simbol tirani kekuasaan dan pelanggaran terhadap HAM. Lewat Floor 13, kita bisa berempati terhadap pola pikir orang-orang yang menjalankan semua praktik kekejaman itu. Akan menarik sekali kalo game ini dimainkan oleh para mahasiswa aktivis atau mereka yang tengah “meniti karier” sebagai Munir-Munir atau Hendardi-Hendardi yang baru!
Floor 13 sendiri dibuat oleh studio PSI Software Designers dan diterbitkan oleh Virgin Interactive Entertainment pada tahun 1992. Bukan game yang laris dan berhasil, karena secara kualitas emang game ini sangat payah. Dalam segala aspek, Floor 13 sangat terbatas banget.
Nggak ada pertunjukan apapun kecuali hanya screen dan tulisan. Kasusnya pun hanya itu-itu aja sehingga membuat semua lama-kelamaan jadi gampang ditebak. Yang lebih parah lagi, absolutely nggak ada AI. Game kian monoton dan membosankan karena nggak ada development baik dalam karakter DG, tingkat interaksi, maupun ruang gerak game. Perpindahan level hanya ditandai dengan skuad yang makin banyak, tapi nggak ada elemen lain yang bertambah, misal fasilitas yang lebih modern, kemampuan riset, proses rekrutmen agen, atau kewenangan yang makin luas termasuk mengendalikan pers!
Namun, seperti yang saya tulis waktu meresensi novel Titik Merah-nya Retni Suprihati bahwa yang bagus jatuhnya nggak selalu bagus, yang jelek pun jatuhnya nggak selalu jelek juga. Floor 13 mungkin sangat jeblok dalam kualitas, tapi pilihan tematiknya membuat kita berpikir lebih jauh ketimbang urusan main video game doang.
Bahwa setting Floor 13 adalah di Inggris, nggak menutup kemungkinan di negara yang paling maju, modern, berbudaya, dan demokratis pun praktik-praktik “ala-KGB” seperti itu barangkali emang juga (dan masih) ada. So, kita pun nggak perlu merasa bahwa bangsa (pemerintahan) kitalah yang paling brutal karena membiarkan aksi-aksi pelanggaran HAM terus terjadi.
Di Amrik, Inggris, Prancis, Jerman, Swiss, Swedia, dan negara-negara lain yang selama ini kita puja-puji dan kita agung-agungkan karena berbagai kemajuannya (dan serbakelebihannya dibanding kita) pun nggak menutup kemungkinan hal-hal kotor seperti itu masih ada.
Bedanya, mereka melakukannya jauh lebih rapi sehingga aman dari ciuman pers!

0 komentar:

Posting Komentar