Judul: Kok Jadi Gini?
Pengarang: Wiwien Wintarto
Penerbit: PT Elex Media Komputindo, Jakarta
Tebal: 176 hal
Genre: Romance/comedy
Harga: Rp 17.800
Novel ini berkisah tentang Adi, seorang wartawan sport di Semarang, yang tengah menjalani episode paling nggak menyenangkan dalam sejarah hidupnya, yaitu dijodohin. Lebih menyebalkan karena ini bukan yang pertama, melainkan untuk yang kedua kali.
Dulu, ortunya pernah mencoba mencomblangkannya dengan Rita, putri salah seorang kawan baik mereka yang kebetulan adalah bos Adi di kantor. Ketika upaya itu gagal, kini mereka mencobanya lagi dengan sasaran utama Dilla, adik Rita.
Yang beda, pencomblangan itu kini punya background “politis” yang amat kental. Mereka sebenernya cuman pengin memisahkan baik Adi maupun Rita dari pasangan masing-masing yang sama-sama nggak disukai. Dari Ratri yang terlalu idealis dan dari Davin yang masa depannya sebagai pelukis jalanan sangat diragukan.
Bukannya melawan terang-terangan, Adi dan Dilla menyiasati permainan itu dengan berpura-pura setuju. Kalo ortu-ortu mereka udah girang bahwa keduanya akhirnya mau, ingatan mereka soal Ratri dan Davin pasti akan jadi kabur dan lama-lama akan ilang.
Tapi ternyata, semua berjalan nggak terduga abis itu. Adi dan Dilla mulai bener-bener merasakan adanya something between them ketika mereka telah saling mengenal dan menyelami karakter masing-masing.
Urusan jadi makin rumit ketika baik Ratri maupun Davin yang tahu perkembangan itu malah dengan berbesar hati merelakan mereka jadian. Yang lebih gila lagi, tahu-tahu aja para ortu menyadari “kekeliruan” mereka yang telah terlalu jauh ikut campur dalam urusan percintaan anak-anak mereka.
Maka hidup pun berubah membingungkan buat Adi. Ketika ortunya menyerah dan menyatakan nggak mau lagi memaksanya untuk bersama dengan Dilla, saat itu justru Dilla udah jadi bagian terindah dari hidupnya.
Kembali ia berada dalam posisi berseberangan dengan ortu. Hanya saja, kali ini berseberangan dalam posisi yang saling bertolak belakang dari urusan semula!
Lewat Kok Jadi Gini?, aku pengin bertutur soal perubahan. Orang sepuh bilang, nggak ada yang abadi dalam hidup kecuali perubahan. Sebagai Homo-sapiens, kita akan terus bertemu perubahan sepanjang masa hidup kita, baik perubahan di luar maupun yang di dalam diri kita.
Namun dibanding perubahan-perubahan yang ada di luar, perubahan yang terjadi di dalam diri kita sendiri adalah perubahan yang paling menghebohkan. Selalu lebih mencengangkan mengamati perubahan diri kita sendiri daripada berbagai kejadian spektakuler yang terjadi di dunia nyata.
Ambil kasus Adi sebagai contoh. Apa yang akan kamu lakukan kalo kamu mengalami kejadian begitu? Hidup pasti akan jadi memusingkan buatmu.
Kok Jadi Gini? juga sebuah cerita tentang knowing someone better than just skin deep. Kita terbiasa menilai orang dari penampilan luarnya atau dari watak dan tabiatnya. Tapi kita nggak pernah mencoba menilai mereka dari “perkawinan kimiawi” karakter kita dengan karakter mereka.
Adi nggak pernah suka sama Dilla yang pendiam dan tertutup, meski dia sangat cantik dan menarik. Tapi setelah ia bersedia masuk ke dalam karakter Dilla, dan sebaliknya mempersilakan karakter Dilla masuk ke dalam karakternya sendiri, tahulah ia bahwa semuanya bisa jadi begitu berbeda.
Things will look different if we dare enough to see it from the other side. Kenali seseorang dengan baik, baru kamu bisa ambil keputusan, especially when it comes to L-O-V-E.
Lewat buku ini kamu juga bisa belajar tentang “hubungan yang tak terdefinisi”. Teman-temanku yang udah baca KJG? pada suka sama istilah baru satu ini. Special thanks buat Gotri yang telah mencetuskannya pertama kali!
Novelku berikutnya, Waiting 4 Tomorrow, juga akan bicara soal perubahan. Bedanya, bukan perubahan yang bikin hidup jadi memusingkan, tapi yang bikin dunia jadi tempat yang sedikit lebih baik untuk ditinggali…

0 komentar:
Posting Komentar